Peta Situs| Hubungi Kami
Dokumen
Ketika Sang Tokoh NU Berpulang, In Memoriam KH. Idham Khalid
12 Juli 2010, Administrator

Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), mangkat di usia 88 tahun setelah mengalami sakit yang cukup lama.. Warga Nahdlatul Ulama berkabung atas meninggalnya KH Idham Khalid, merupakan mantan pemimpin organisasi masyarakat terbesar di Indonesia tersebut. Idham terkenal sebagai pemimpin NU termuda dan terlama yang pernah menjabat.

KH Idham Chalid meninggal dunia pada Minggu (11/7) di kediaman Pondok Pesantren Darul Ma'arif, Cipete, Jakarta Selatan. Setelah menderita sakit yang berkepanjangan yakni serangan jantung yang berakibat lumpuh total sejak tahun 1999. Ia merupakan salah satu tokoh NU yang cukup lama memimpin organisasi massa Islam tradisional di Indonesia, tercatat selama 27 tahun memimpin NU sejak 1955 hingga 1984.?

Suryadharma Ali yang langsung memimpin upacara pemakana secara kenegaraan, dalam sambutannya atas nama negara menyampaikan bela sungkawa atas meninggalnya KH Idham Chalid. Ia juga meminta seluruh warga untuk turut mendoakan agar almarhum mendapat tempat yang layak di sisi Allah.

"Banyak hal-hal yang telah diperbuat almarhum semasa hidupnya yang bisa dijadikan suri tauladan bagi kita yang masih hidup," katanya. Upacara kenegaraan ini, lanjut dia, dilakukan untuk menghormati jasa-jasa almarhum.

Hadir pada upacara tersebut di antaranya Bupati Bogor Rahmat Yasin serta para ulama termasuk KH Didin Hafiduddin dan KH Syukron Makmun, salah seorang murid KH Idham Chalid.

Sementara itu, Bupati Bogor, Rahmat Yasin, yang memberikan sambutan atas nama keluarga almarhum mengucapkan terima kasih atas bantuan semua pihak dalam proses pemakaman almarhum.

Kiprah politik KH Idham juga terlalu di lintas zaman sekaligus. Ia menjadi inspirasi penting bagi perjalanan politisi di ormas kegamaan Nahdlatul Ulama (NU). Di era KH Idham Chalid pula, NU menjadi ormas kegamaan yang turut aktif dalam politik praktis. Di tangan Pak Idham, demikan ia sering disapa, NU menjadi pilar penting dalam proses penggabungan partai politik berbasis Islam (fusi) yang kemudian menjadi Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Pak Idham pulalah yang menjadi Presiden PPP untuk pertama kalinya. Sebelumnya bergabung di PPP, Idham Chalid juga aktif menjadi aktivis partai politik di Partai NU.

Aktivitas politik inilah yang membawa Idham Chalid terlibat dalam proses penting perjalanan bangsa ini. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri II di Kabinet Ali Sastroamidjojo era orde lama di usia yang cukup muda yakni 34 tahun.

Sedangkan di era Orde Baru, Idham juga dipercaya Presiden Soeharto sebagai Menteri Kesejahteraan Rakyat (1967-1970), Menteri Sosial Ad Interim (1970-1971), dan pernah pula menjabat Ketua MPR/DPR (1971-1977), serta Ketua DPA (1977-1983).

Kiprah politik KH Idham Chalid inilah, menurut mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menunjukkan sikap konsistensi Idham Chalid dalam setiap kondisi.

"Orang yang mengerti Pak Idham menyatakan beliau orang yang istikomah dalam berbagai situasi, tetapi orang yang tidak cocok pasti mengatakan oportunis karena dari masa ke masa selalu mendapatkan tempat," kata Hasyim.

"Kiai Idham tercatat sebagai tokoh termuda yang pernah memimpin PBNU. Beliau memimpin PBNU dalam usia 34 tahun. Selain itu, beliau juga sebagai tokoh terlama yang mengemban jabatan ketua umum hingga 28 tahun," kata Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bogor, Zaenullah.

Sementara, menurut Wasekjen DPP PPP Muhammad Romahurmuziy, meninggalnya KH Idham Chalid telah mewariskan etika politik yang santun, kehidupan yang bersahaja, kerja keras, serta silaturahim lintas budaya dan keyakinan yang luar biasa inspiratif bagi generasi penerus.

"Pak Idham adalah guru politik bangsa, politisi multitalenta, faqih dalam ilmu keagamaan dan mumpuni dalam menahkodai Partai NU, PBNU, maupun PPP dalam melewati perubahan sosial politik di tingkat nasional, perubahan rezim, dan pemberlakuan asas tunggal Pancasila untuk seluruh ormas dan parpol, termasuk PPP," ujarnya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (11/7).

Kendati demikian, tak ubahnya tokoh besar lainnya, Idham juga meninggalkan jejak kontroversi atas sikapnya. Tidak semua tindakannya mendapat persetujuan dari kalangan luas, khususnya di internal NU.

Puncaknya saat Muktamar NU 1984 di Situbondo, perseteruan Kelompok KH Idham Chalid yang merepresentasikan NU-Politik yang kemudian dikenal dengan ?Kelompok Cipete? dengan KH As?ad Syamsul Arifin yang kemudian dikenal sebagai ?Kelompok Situbondo? sebagai representasi kelompok NU-Kultural. Melalui muktamar itulah, NU menegaskan diri kembali ke Khittah 1926 yang juga menandakan berakhirnya era KH Idham Chalid.

Selamat jalan Pak Idham.

Disarikan dari berbagai sumber

Komentar
Kirim Komentar
Email anda tidak akan dipublikasikan. Isi semua field yang bertanda (*)
Nama : *
E-mail : *
Website :
Pesan : *
Code :
Verify : *